,

Kampung Ahok Desa Lenggang: Dari Desa Biasa Menjadi Ikon Wisata Budaya Belitung Timur


Ketika berbicara tentang Belitung, kebanyakan orang langsung teringat dengan keindahan pantai berpasir putih, batu granit raksasa yang ikonik, atau film Laskar Pelangi yang meledak di layar kaca. Namun, Belitung Timur ternyata punya satu destinasi unik yang berbeda dari panorama lautnya: sebuah desa kecil bernama Desa Lenggang di Kecamatan Gantung. Desa ini dikenal luas dengan sebutan Kampung Ahok, sebuah sebutan yang lahir karena di sinilah Basuki Tjahaja Purnama — lebih dikenal sebagai Ahok — dilahirkan dan dibesarkan.

Menariknya, Kampung Ahok bukan hanya tentang sosok politikus kontroversial dan fenomenal tersebut, melainkan juga tentang jejak sejarah, budaya Tionghoa-Melayu yang kental, kehidupan desa yang masih otentik, hingga geliat wisata baru yang memberi warna bagi perekonomian masyarakat setempat. Artikel panjang ini akan membawa kita menyusuri cerita Kampung Ahok dari akar sejarahnya, perkembangan modern, hingga perannya sebagai destinasi wisata khas Belitung Timur.


Asal Usul Desa Lenggang

Desa Lenggang merupakan bagian dari Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Nama “Lenggang” sendiri dipercaya berasal dari bahasa lokal yang berarti “tenang” atau “mengalir pelan,” menggambarkan suasana desa yang damai dengan aliran sungai kecil yang membelah kawasan tersebut.

Sejak dulu, Lenggang dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya hidup dari hasil tambang timah, perkebunan lada, dan karet. Sebagian masyarakatnya adalah keturunan Tionghoa yang datang sejak abad ke-18 ketika kolonial Belanda membuka tambang timah di Bangka dan Belitung. Komunitas Tionghoa ini kemudian membaur dengan masyarakat lokal Melayu, menghasilkan akulturasi budaya yang kuat terlihat pada tradisi, kuliner, hingga arsitektur rumah.


Sejarah Desa Lenggang

Era Kolonial dan Tambang Timah

Pada masa kolonial Belanda, Belitung adalah salah satu lumbung timah di Hindia Belanda. Desa-desa di sekitar Gantung, termasuk Lenggang, menjadi tempat bermukimnya para pekerja tambang. Kehidupan masyarakat saat itu sangat bergantung pada perusahaan tambang yang mengatur hampir seluruh aspek ekonomi.

Meski begitu, warga Lenggang tidak hanya menggantungkan hidup pada tambang. Mereka juga mengembangkan perkebunan lada, karet, dan padi ladang. Hasil bumi ini yang kemudian menjadi ciri khas ekonomi masyarakat Belitung Timur hingga sekarang.

Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Desa Lenggang tetap mempertahankan corak hidup sebagai desa tambang dan perkebunan. Infrastruktur masih sederhana, dengan jalan tanah, rumah panggung kayu, dan akses terbatas ke pusat kota. Barulah setelah tahun 1980-an hingga 1990-an pembangunan mulai masuk, ditandai dengan peningkatan fasilitas pendidikan, kesehatan, serta jalan aspal.

Lahirnya Figur Ahok

Pada 29 Juni 1966, lahirlah seorang anak laki-laki keturunan Tionghoa bernama Basuki Tjahaja Purnama di Desa Lenggang. Putra pasangan Indra Tjahaja Purnama dan Buniarti Ningsih ini kelak dikenal sebagai salah satu tokoh politik Indonesia paling menonjol di awal abad ke-21. Kehadiran Ahok kemudian mengangkat nama Desa Lenggang dari sekadar desa kecil di pelosok Belitung Timur menjadi dikenal di seluruh Indonesia, bahkan dunia.


Kampung Ahok: Dari Sebutan Hingga Destinasi

Awal Mula Nama “Kampung Ahok”

Nama Kampung Ahok baru populer sekitar tahun 2015–2016, ketika karier politik Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta sedang naik daun. Wisatawan yang datang ke Belitung sering bertanya di mana kampung halaman Ahok berada. Dari situlah, Desa Lenggang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kampung Ahok.

Pemerintah Kabupaten Belitung Timur bersama warga kemudian mengembangkan rumah masa kecil Ahok sebagai objek wisata. Rumah sederhana bercat cokelat dengan desain khas rumah panggung Tionghoa-Melayu itu menjadi daya tarik utama.

Rumah Ahok

Rumah ini masih dipertahankan dalam bentuk aslinya: panggung kayu dengan struktur sederhana, dinding papan, dan suasana desa yang kental. Pengunjung dapat melihat langsung ruang tamu, kamar tidur, hingga perabotan lama yang masih terjaga. Di sini, wisatawan bisa merasakan bagaimana kehidupan keluarga sederhana di Belitung Timur pada era 1970-an hingga 1980-an.

Rumah Ahok bukan hanya sekadar bangunan, tapi juga simbol bahwa dari desa kecil pun bisa lahir seorang tokoh besar. Banyak pengunjung yang datang bukan hanya karena penasaran, tapi juga untuk mencari inspirasi.

Galeri Kampung Ahok

Selain rumah, ada juga Galeri Kampung Ahok yang dibangun untuk menampung berbagai dokumentasi perjalanan hidup Ahok, dari masa kecil hingga karier politik. Di dalam galeri, pengunjung bisa melihat foto-foto keluarga, koleksi buku, hingga poster kampanye.


Hal-Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kampung Ahok

  1. Tidak Dipungut Biaya Masuk
    Sebagian besar area rumah dan galeri bisa dikunjungi tanpa tiket masuk. Pengunjung hanya diminta menjaga kebersihan dan menghormati lingkungan sekitar.
  2. Suasana Desa yang Autentik
    Jangan harap menemukan suasana modern. Justru daya tarik Kampung Ahok adalah kesederhanaannya. Jalan desa masih aspal sederhana, rumah-rumah panggung berdiri di kiri kanan jalan, dan kehidupan warga terasa apa adanya.
  3. Akulturasi Budaya Tionghoa-Melayu
    Warga di Desa Lenggang mayoritas keturunan Tionghoa yang berbaur dengan budaya lokal Melayu. Hal ini terlihat dari arsitektur rumah, tradisi sembahyang, hingga bahasa sehari-hari yang sering bercampur antara Melayu Belitung dengan logat Hakka.
  4. Pusat Wisata Edukasi dan Budaya
    Selain mengenal sosok Ahok, pengunjung juga bisa belajar tentang sejarah Belitung Timur, kehidupan desa, hingga kuliner khas seperti mie Belitung dan kue tradisional Hakka.

Wisata Lain di Sekitar Desa Lenggang

Selain rumah Ahok, Desa Lenggang juga punya beberapa destinasi wisata menarik di sekitarnya:

  1. Replika SD Muhammadiyah Gantung (SD Laskar Pelangi)
    Tidak jauh dari Kampung Ahok, berdiri replika sekolah tempat Andrea Hirata menimba ilmu, yang kemudian diabadikan dalam novel dan film Laskar Pelangi. Tempat ini menjadi salah satu ikon wisata edukasi di Belitung Timur.
  2. Museum Kata Andrea Hirata
    Museum literasi pertama di Indonesia ini juga berada di Gantung. Pengunjung bisa menikmati suasana penuh warna, kutipan inspiratif, dan koleksi karya Andrea Hirata yang mendunia.
  3. Bendungan Pice
    Bendungan peninggalan Belanda yang berusia hampir 100 tahun. Tempat ini dulu dibangun untuk mengendalikan banjir dan mendukung pertambangan timah. Kini, bendungan tersebut menjadi salah satu spot foto favorit wisatawan.
  4. Wisata Sungai Lenggang
    Sungai yang melintasi desa bisa dijadikan tempat bersantai, memancing, atau sekadar menikmati suasana desa.

Peran Kampung Ahok Dalam Pariwisata Belitung Timur

Kampung Ahok telah menjadi salah satu magnet wisata Belitung Timur. Ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara berkunjung setiap tahun. Kehadiran wisatawan ini tentu memberi dampak ekonomi yang positif, mulai dari peningkatan usaha kecil (warung, penginapan, suvenir) hingga membuka lapangan kerja baru.

Selain itu, Kampung Ahok juga memberi kontribusi pada citra Belitung Timur sebagai daerah yang bukan hanya indah pantainya, tapi juga kaya akan budaya, sejarah, dan figur nasional.


Kesimpulan: Desa Kecil dengan Cerita Besar

Kampung Ahok di Desa Lenggang adalah contoh nyata bagaimana sebuah desa kecil bisa menjadi ikon wisata berkat sejarah dan tokoh yang lahir darinya. Dari rumah panggung sederhana, akulturasi budaya, hingga geliat wisata baru, Lenggang kini tak lagi hanya dikenal oleh warganya sendiri, tapi juga oleh jutaan orang di Indonesia.

Bagi wisatawan, berkunjung ke Kampung Ahok bukan hanya soal melihat rumah masa kecil seorang tokoh politik, tapi juga merasakan denyut kehidupan desa, menyelami sejarah Belitung Timur, dan belajar bahwa dari tempat sederhana bisa lahir sosok yang memberi warna pada panggung nasional.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *